Tampilkan postingan dengan label Khalista Surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khalista Surabaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Maret 2013

Pemikiran KH Hasyim Asy'ari tentang Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah)

Judul Buku: Pemikiran KH Hasyim Asy'ari tentang Ahlussunnah Wa al-Jamaah

Penulis : Achmad Muhibbin Zuhri
Penerbit : Khalista dan LTN PBNU
Cetakan I : Desember 2010
Tebal : XXVI+ 328 Halaman
Harga : Rp. 50.000,-

Resensi :
Mbah Hasyim Ideolog Sunni Indonesia

Fakta jika mayoritas umat Islam di Indonesia adalah pengikut ajaran Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah (aswaja) tidak dapat dipungkiri. Keberhasilan itu tidak bisa dilepaskan dari peran Nahdlatul Ulama yang sedari awal berdiri meneguhkan diri sebagai pengamal dan pengawal ajaran ahlussunnah wal jamaah. Diakui ataupun tidak, inklusifitas ajaran Nahdhatul Ulama yang ditransformasikan dari nilai-nilai aswaja telah memberikan kontribusi besar terciptanya wajah moderat dan fleksible Islam di Indonesia.
Bangsa Indonesia yang multikultur serta kaya akan ragam tradisi, tidak menghalangi Islam ala NU membumi. Mengacu pada teori Islam Kolaboratif Prof. Nur Syam, fleksibilitas doktrin sunni mampu berkolaborasi dengan tradisi-tradisi non Islami yang telah mapan tanpa menghilangkan nilai-nilai ajaran Islam yang bersifat absolut.
Fenomena kenduri, tahlilan, perayaan maulid, peringatan tiga hari, tujuh hari serta seratus hari pasca kematian, adalah bukti bentuk metamorfosa nilai-nilai ajaran Islam dengan budaya masyarakat Indonesia pra Islam. Sehingga, keberadaan Islam dapat diterima menjadi agama mayoritas masyarakat Indonesia tanpa resistensi yang berarti.
Dalam kajian historis, Walisongo sangat berjasa menanamkan ajaran ahlussunnah di ranah Nusantara. Namun, NU sebagai organisasi sosial keagamaan memiliki andil yang signifikan dalam mempertahankan ajaran ideologi Sunni. Menjamurnya organisasi keagamaan yang mengusung purifikasi dan pembaruan Islam dalam dekade awal abad 20 secara sistemik dan masif melakukan penggerogotan. Di sinilah NU berperan aktif melakukan pendampingan serta pengawalan terhadap tradisi Sunni sebagai way of life mayoritas umat Islam Indonesia.
Satu hal pokok yang tidak boleh dilupakan bahwa wajah Sunni Nahdlatul Ulama sangat dipengaruhi oleh paradigma Aswaja Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Tidak berlebihan jika KH Hasyim Asy’ari ditahbiskan sebagai ideolog Sunni Indonesia. Penelitian terbaru tentang pemikiran tokoh pendiri organisasi sosial keagamaan terbesar di dunia ini, Dr Achmad Muhibbin Zuhri menemukan corak Sunni KH Hasyim Asy’ari sangat khas dan tidak sebangun persis dengan konstruksi Sunni era awal, meskipun dalam banyak hal tetap mencerminkan pola Sunni.
Sunni Partikular ala Mbah Hasyim
Ahlussunnah wal jamaah sebagai ideologi tidak dapat dilepaskan dari normatifitas ajaran yang telah digariskan pengagasnya. Namun, dalam tataran praksis, normatifitas ajaran ahlussunnah tersebut tidak bisa melepaskan diri dari proses dialektika dengan dinamika sosio religious yang mengelilingi. Jika entitas Sunni era awal pembakuan sebagai counter ideologis terhadap Mu’tazilah dan Jabariah, serta counter politic terhadap syi’ah. Hal ini berbeda dalam konteks di mana Mbah Hasyim hidup.
Meskipun bangunan pemikiran Mbah Hasyim dipengaruhi oleh pemikiran ulama abad pertengahan dan klasik, namun dekade Mbah Hasyim identik dengan era pertarungan antara entitas Islam Tradisional yang diwakili oleh masyarakat pesantren dan mayoritas umat Islam Indonesia yang berhaluan sunni, berhadapan dengan entitas Islam puritan dan pembaharu yang dikelompokkan dalam Islam Modernis. Uniknya, kelompok Tradisionalis maupun Puritan-Modernis sama-sama mengaku sebagai entitas sunni dan secara geneologis bertemu pada simpul Ahmad bin Hanbal pendiri Madzhab Hanbali yang dikenal otoritasnya sebagai ahli hadist.
Konstruksi naratif pemikiran Mbah Hasyim dapat dipandang sebagai salah satu “counter discource” terhadap mainstream pemikiran modernis dan puritan. Yakni kelompok yang menolak secara tegas pola bermadzhab dan taqlid serta melarang bid’ah atau kreatifitas dalam ibadah yang secara eksplisit tidak terdapat acuan dalam nash Al-Qur’an maupun Al-Hadis.
Pandangan Mbah Hasyim mengenai tawassul, istighatsah, syafa’at, kewalian, maulid, tarekat, dalam beberapa kitab karangannya merupakan wacana tanding pemikiran kelompok Islam Puritan yang dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab pendiri Aliran Wahhabi. Sedangkan isu-isu pembaruan yang dimunculkan oleh kalangan Modernis pengikut pemikiran Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh, direspon oleh Mbah Hasyim dalam pembahasan seputar ijtihad, madzhab, taqlid, talfiq, sunnah dan bid’ah.
Menurut Muhibbin, deskripsi pemikiran keagamaan Kiai Hasyim di atas berimplikasi teoritis terhadap konsep Sunnisme. Mbah Hasyim dapat diintrodusir sebagai “sunni partikular”, yaitu paham ahlussunnah wal jamaah yang telah berdialog dengan dinamika keagamaan di Indonesia, khususnya dialektika modernis-tradisionalis pada abad ke-20. (hal. 265)
Sebagai bagian dari komunitas Nahdliyin, penulis telah berhasil menggali dengan mendalam tentang konstruksi pemikiran KH. Hasyim Asy’ari. Tokoh pendiri Nahdlatul Ulama yang hingga saat ini menjadi ikon Islam subtantif dan moderat. Buku ini merupakan hasil disertasi yang diterbitkan, sehingga alur penulisannya sistematis dan analisanya mendalam. Oleh penulis, pembaca diajak mengarungi pemikiran ahlussunnah KH. Hasyim Asy’ari secara runtut dan detail. Mulai dari kajian embrio munculnya pemikiran Sunni, konsolidasi, pelembagaan ideologi sunni era abad pertengahan, hingga dialektika sunni dengan realitas sosio-religius yang melingkupinya dalam berbagai dekade.
Tidak kalah menarik, uraian tentang latar belakang intelektual yang membentuk paradigma Sunni KH Hasyim Asy’ari serta bagaimana pendiri Nahdlatul Ulama ini berusaha mendialektikakan mainstream sunni dengan realitas sosio-religious masyarakat Indonesia era awal abad 20. Sehingga, tampak jelas kepiawaian Mbah Hasyim dalam merumuskan doktrin-doktrin ahlussunnah dari nash Al-Qur’an dan Al-Hadis yang pada akhirnya memunculkan bentuk sunni yang khas Indonesia.
Studi dalam buku ini, selain dapat memberikan referensi bagi usaha-usaha reaktualisasi ideologi, juga berguna menambah khazanah keilmuan tentang Sunni Partikular, yaitu ekspresi ahlussunnah wal jamaah pada dimensi ruang dan waktu tertentu. Selain itu, buku ini merupakan wujud usaha aktualisasi sekaligus kontekstualisasi ahlussunnah wal jamaah yang bercorak inklusif, moderat dan fleksible dalam bersinggungan dengan kesejarahan umat. Walhasil, apresiasi yang besar layak diberikan kepada penulis, sebab isi buku ini menambah kekayaan tafsir tentang ahlussunnah di saat gempuran ideologi “kaca mata kuda”  Islam puritan yang cenderung eksklusif menguncang kedamaian dan kesantunan dalam beragama dan keberagamaan. Wallahu a’lam… (Peresensi : Fathul Qodir, Sumber: NU Online)

Membumikan Aswaja; Pegangan Para Guru NU - Tim PP Persatuan Guru NU (PERGUNU)

Judul : Membumikan Aswaja; Pegangan Para Guru NU
Oleh : Tim PP Persatuan Guru NU (PERGUNU)
Tebal : xii + 243 halaman
Cetakan, Pertama, Juni 2012
Penerbit : Khalista
Harga : Rp. 45.000,-
Tanggung jawab para guru adalah mengentaskan anak didiknya dari kemiskinan ilmu, khusunya ilmu yang pada akhirnya mampu membentengi mereka dari serbuan aliran yang bertentangan dengan aliran Ahlussunnah Waljamaah.
Dalam konteks inilah menjadi strategis gagasan pembuatan buku aswaja untuk para guru yang dilontarkan oleh para Pengurus Pusat PERGUNU, karena bagaimana pun juga harus diakui bahwa guru adalah ujung tombak satu-satunya yang dimiliki oleh NU dalam rangka menjaga, memelihara dan membumikan eksistensi ajaran Aswaja pada masa yang akan datang, khusunya bagi para peserta didik di kalangan lembaga pendidikan formal.
Buku ini hadir memberi wawasan dan pemahaman kepada masyarakat NU dan siapa saja yang mau membacanya agar lebih paham dan tidak ragu lagi dalam melakukan amaliahnya yang telah tumbuh dan berkembang dari tahun ke tahun bahkan dari abad ke abad.
Tuduhan kelompok yang melakukan serang itu sesungguhnya tidak berdasar dan tidak terbukti kebenarannya. Mereka salah dalam melihat dan menilai masyarakat NU dalam beramaliah dari dulu hingga saat ini.
Semoga hidayah Allah sampai kepada mereka semua sehingga tidak gampang dan mudah menyalahkan kelompok lain.

Syaikhona Kholil Bangkalan; Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama

 Judul : Syaikhona Kholil Bangkalan; Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama
 Oleh : RKH. Fuad Amin Imron
 Tebal : xxviii + 228 hlmn.
 Cetakan : Pertama, Juni 2012
 Penerbit : Khalista & Penainsani
 Harga : Rp. 45.000,-
 "Jika Muammil Qomar (2002) menyebut 3 nama ulama yang memiliki peran penting dalam proses pendirian NU, yaitu KH Wahab Hasbullah sebagai pencetus ide, KH Hasyim Asy'ari sebagai pemegang kunci, dan Syaikhona Muhammad Kholil sebagai penentu berdirinya NU, dalam buku ini saya menambahkan satu ulama lagi, yaitu, KH As'ad Syamsul Arifin. Peran Kiai As'ad dalam konteks ini adalah penyampai isyarat langit dari Syaikhonan Kholil, yang telah meneguhkan sikap dan pandangan KH Hasyim Asy'ari untuk mendirikan NU." (RKH Fuad Amin Imron, Penulis)
 "Dalam prespektif spiritualitas, Syaikhona Kholil adalah tokoh yang berperan secara langsung dalam pendirian organisasi para ulama pesantren. Pesan spiritualitasnya yang disampaikan melalui KH As'ad Syamsul Arifin menjadi faktor penentu bagi berdirinya NU. Dan pesan simbolik Syaikhonan Kholil inilah yang telah menepis keraguan, kegamangan dan kegelisahan Kiai Hasyim untuk mendirikan NU. Keyakinan Kiai Hasyim terhadap pesan spiritual gurunya itu, lalu diteruskan secara lahiriah kepada Kiai Wahab Hasbullah sebagai pembawa ide, untuk ditindaklanjuti dalam sebuah permusayawaratan ulama di Surabaya, pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H), setahun sebelum Syaikhonan Kholil wafat. Permusyawaratan para ulama tersebut melahirkan Komite Hijaz, yang kemudian ditetapkan namanya menjadi Jam'iyah Nahdlatul Ulama." (Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA, Ketua Umum PBNU)
 "Isyarah Tongkat Musa dan Tasbih yang diberikan Syaikhona Kholil kepada Kiai Hasyim Asy'ari melalui Kiai As'ad berhubungan dengan jam'iyah sekaligus jamaah NU. Tongkat Musa adalah simbol komando atau kepemimpinan (leadership), sementara Tasbih adalah simbol spiritualitas dan simbol budaya. Kombinasi keduanya, diharapkan agar pemimpin NU memiliki pandangan, sikap dan tindakan yang terjaga keseimbangannya antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi. Muaranya adalah keteladanan (al-uswah), dimana pandangan, sikap dan tindakan pemimpin NU harus dapat dijadikan teladan oleh jamaah." (Nico Ainul Yakin, Editor)a

Minggu, 17 Maret 2013

Risalah Ahlussunnah Wal-Jamaah

Judul : Risalah Ahlussunnah Wal-Jamaah, Dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan Pembelaan Akidah-Amaliah NU
Oleh : Tim Aswaja Center PWNU Jawa Timur
Tebal : 360 halaman
Cetakan : Pertama, Juni 2012
Penerbit : Khalista
Harga : Rp. 50.000,-

Buku ini secara umum terdiri dari tiga pembahasan utama yang dipaparkan dalam tiga bab.

Pertama, perjelasan tentang berbagai kelompok, aliran dan sekte dalam sejarah umat Islam serta beberapa kelompok atau organisasi yang lahir dan berkembang pada kurun-kurun akhir, baik di Indonesia maupun di negara lain. Pembahasan ini berguna untuk memetakan posisi Ahlussunnah Wal-Jamaah yang moderat (tawassuth).

Kedua, pembahasan tentang Ahlussunnah Waljamaah yang diikuti oleh Nahdlatul Ulama (Asw2aja NU), termasuk penjelasan mengenai madzhab teologi al-Asy'ari dan al-Maturidi yang diikuti oleh organisasi terbesar di Indonesia ini, bahkan oleh mayoritas umat Islam di dunia sepanjang zaman.

Ketiga, pemaparan mengenai tradisi islami dan dalil-dalilnya. Khususnya bagi warga NU yang barangkali memandang tradisi islami sebagai suatu kebiasaan, kini sudah saatnya memahami, bahkan melakukan pembelaan, bahwa apa yang mereka lakukan selama ini bukanlah bid'ah yang sesat, yang dapat menjerumuskan mereka dalam siksa neraka. Sedang bagi selain warga NU yang selama ini rajin menuduh bahwa NU adalah "gudang"nya takhayyul, bid'ah, churafat (biasa mereka singkat TBC), menjadi mengerti bahwa yang dilakukan umat Islam yang berafiliasi ke NU ternyata memiliki dasar dalil. Minimal, mereka menjadi sosok yang dapat memahami  perbedaan di tengah umat dengan cara yang santun, dewasa dan arif. Perbedaan dalam masalah furu'iyah (cabang agama) adalah suatu keniscayaan, bukan malah dijadikan sebagai senjata yang digunakan untuk menyerang sesama saudara seiman dan seagama.

Hujjah Nahdliyah, Keilmuan – Tradisi – Tasawuf

Judul: Hujjah Nahdliyah, Keilmuan – Tradisi – Tasawuf
Oleh: Nur Hidayat Muhammad
Ukuran: 12 x 18,5 cm
Tebal: 88 halaman
Penerbit: Khalista
Harga: Rp. 12.000,-

Buku Hujjah Nahdliyah ini sengaja dibuat ringkas dan hadir sebagai jawaban atas tuduhan-tuduhan tidak berdasar dari kelompok yang anti pada pola pikir dan amaliah kaum nahdliyin.

Sangat naïf bila orang yang tingkat keilmuannya sangat terbatas, hanya membaca dalil dari terjemah, dan tidak memahami bahasa Arab dengan baik, namun tampil menghakimi para ulama dan amaliahnya dengan tudingan sesat, bid’ah, syirik dan selainnya. Padahal vonis seperti itu sama dengan istilah “bukan dalang mengkritik dalang”.

Buku ini tidak bertujuan memupuk perselisihan antara warga Nahdliyin dengan pengikut-pengikut kelompok lain, seperti MTA, LDII, Salafi Wahhabi, HTI dan selainnya. Namun kehadirannya diharapkan menjadi informasi penting, bahwa cara berpikir dan beramal warga NU selalu berpegang pada dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara

Dialog Tasawuf Kiai Said; Akidah, Tasawuf & Relasi Antarumat Beragama

Judul: Dialog Tasawuf Kiai Said; Akidah, Tasawuf & Relasi Antarumat Beragama
Oleh: KH. Said Aqil Siroj
Tebal: 152 hal
Ukuran: 14,5 x 21 cm
Penerbit: Khalista Surabaya
Harga: Rp. 25.000,-

Masyarakat modern yang bersifat totaliteristik (ingin menguasai semua aspek kehidupan), eksploris, dan hanya percaya kepada rumus-rumus empiris saja, serta sikap hidup positivistis yang hanya berdasar kemampuan akal, pada gilirannya akan menjadi penyebab kerusakan di muka bumi. Dalam ranah ini, tasawuf sebagai wujud ihsan dalam risalah yang dibawa Rasulullah SAW memainkan perannya menjadi problem solving untuk menghadapi berbagai problematika kehidupan.

Buku yang bermula dari dialog tasawuf di berbagai media massa ini diharap bisa menjadi pengantar keniscayaan mengaplikasikan tasawuf di ranah kehidupan nyata, serta tidak hanya membentuk pribadi muslim yang punya “kesalehan ritual” atau “kesalehan sosial” saja, melainkan menjadikannya sebagai pribadi yang mempunyai karakter “kesalehan total”.

Dalam konteks keindonesiaan yang majemuk, tasawuf akan mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang ramah, menghormati perbedaan, dan mampu mengelola keragaman, sesuai pilar bangsa: Bhinneka Tunggal Ika.

Pahlawan Ahlussunnah Menghadapi Sekte-Sekte Bid'ah

Judul: Pahlawan Ahlussunnah Menghadapi Sekte-Sekte Bid'ah
Oleh: KH. Anas Machfudz
Penerbit: Khalista

Harga: Rp. 17.000,-

Senin, 26 Maret 2012

Pengantar Sejarah Ahlusunnah Wal Jama'ah

Pengantar Sejarah Ahlusunnah Wal Jama'ah

Oleh: Muhammad Idrus Ramli

Penerbit: Khalista

Harga: Rp. 33.000,-

Hal: xiii + 200 hal.


SAlah satu aspek yang sangat menarik untuk diamati dan ditelusiri adalah kajian Ahlusunnah Wal Jama'ah dalam perspektif kesejarahan, sehingga akan terungkap kondisi politik di masa Khulafaur Rasyidin, awal lahirnya perpecahan dalam Islam, latar belakang lahirnya berbagai aliran, hakikat istilah Ahlusunnah wal Jama'ah dan sejarah kelahirannya, yang akhirnya identik dengan dua madzhab besar dalam islam yang diikuti oleh mayoritas kaum muslimin dari dahulu hingga kini, yaitu madzhab al-As'ari dan al-Maturidi.

Khilafiah antara dua madzhab ini tidak sampai pada batas saling membid'ahkan dan mengkafirkan, sebagai ciri khas Ahlusunnah wal jama'ah yang selalu menjaga kebersamaan, solidaritas, dan persaudaraan.

Di buku ini terungkap juga mata rantai sanad dua madzhab tersebut dengan kaum muslimin Indonesia.

Tahlil Dalam Perspektif Al Quran & As Sunnah

Tahlil Dalam Perspektif Al Quran & As Sunnah

Oleh :  KH. Muhyiddin Abdusshomad


Penerbit : Khalista Surabaya


Harga : Rp. 17.000,-



Membedah Bid'ah & Tradisi dalam Perspektif Ahli Hadits & Ulama Salafi

Membedah Bid'ah & Tradisi dalam Perspektif Ahli Hadits & Ulama Salafi

Oleh: Muhammad Idrus Ramli

Penerbit: Khalista

Tebal: ix + 103 Hal.

Harga: Rp. 12.000, -


Dewasa ini seiring dengan derasnya arus globalisasidan modernisasi, telah berkembang beberapa aliran transnasional yang anti tradisi dan berupaya membabat habis tradisi lokal serta menggantikannya dengan tradisi sebagian bangsa Arab modern dengan dalih purifikasi ajaran Islam serta kembali kepada ajaran al-Qur'an dan Sunnah. Kelompok anti tradisi ini dipelopori oleh gerakan Salafi atau Wahhabi, dan berpengaruh luas terhadap aliran transnasional lainnya.

Namun sayang sekali, semangat dan obsesi kelompok tersebut dalam upaya membabat habis seluruh tradisi lokal, bukanlah berangkat dari dalil-dalil al-Qur'an, Sunnah dan aqwal ulama yang otoritatif (mu'tabar), yang selama ini menjadi pedoman mayoritas umat Islam Ahlusunnah wal Jama'ah di berbagai belahan dunia islam.

Oleh karena itu buku kecil ini berupaya menjelaskan beragam tradisi umat Islam di tanah air berdasarkan al-Qur'an dan Hadits, serta menurut perspektif para ulama yang menjadi rujukan utama kaum wahhabi.

Sabtu, 17 Maret 2012

Argumen Amaliah di Bulan Sya'ban dan Ramadhan

Argumen Amaliah di Bulan Sya'ban dan Ramadhan

Oleh: KH. Muhyiddin Abdusshomad

Penerbit: Khalista

Harga: Rp. 8.000,-


Memang, idealnya setiap amaliah ibadah mahdhah harus ada nash (teks) al-QUr'an atau al-Hadits-nya, bukan tafsir, ta'wil, ataupun qiyas (akal). Namun karena ketrbatasan nash, sementara kasus dalam ibadah maupun muamalah itu terus berkembang sepanjang zaman, maka tidak dapat dihindari penggunaan tafsir, ta'wil, ataupun qiyas. DI antaranya beberapa tradisi dan ibadah dibulan Sya'ban dan Ramadhan yang diamalkan oleh masyarakat Indonesia.

Buku saku ini merupakan penelusuran penulis terhadap argumen beberapa tradisi dan ibadah tersebut yang bisa dijadikan panduan dalam mengamalkannya, sehingga kita tidak mudah terpengaruh oleh tuduhan bid'ah, sesat dan menyesatkan, akhirnya warisan tradisi-tradisi itu tetap terpelihara, terlestarikan dan dapat mematri iman dan islam kita "laksana karang di tengah lautan yang tak goyah oleh deburan ombak yang dahsyat sekalipun". 

Benarkah Tahlilan & Kenduri Haram ?

Benarkah Tahlilan & Kenduri Haram?

Oleh: Muhammad Idrus Ramli

Penerbit: Khalista

Harga: Rp. 10.000,-


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Pada Tanggal 23 Juli 2011, penulis mengisi acara daurah pemantapan Ahlussunnah Wal-Jama'ah di Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran, Sleman Yogyakarta yang diasuh oleh KH. Mu'tashim Billah Mufid. Ketika sampai pada sesi tanya jawab, salah seorang peserta mengajukan pertanyaan kepada penulis tentang hukum selamatan kematian, Tahlilan dan Yasinan yang mengakar di Nusantara sejak ratusan tahun yang silam. Penanya tersebut juga menyodorkan selebaran Manhaj Salaf, setebal 14 halaman, dengan artikel utama berjudul Imam Syafie Mengharamkan Kenduri Arwah, Tahlilan, Yasinan dan Selamatan.

Selebaran tersebut disebarkan dari pintu ke pintu di daerah Sleman dan sekitarnya oleh kaum Wahabi. Anehnya dalam selebaran tersebut, tidak tertera siapa nama penulis atau penanggung jawabnya dan di mana alamatnya. Ternyata, setelah penulis mengamati selebaran tersebut, isinya penuh dengan pemutarbalikan fakta, pemalsuan dan distorsi terhadap pernyataan para ulama madzhab Syafi'i. Pada acara tersebut, penulis sengaja mengecek kutipan-kutipan dalam selebaran itu dan membandingkannya dengan sumber-sumber aslinya. Hasilnya, peserta Daurah menjadi yakin, bahwa selebaran tersebut memang banyak melakukan kecurangan dan distorsi ilmiah.

Sekitar awal bulan Nopember 2011, penulis dihubungi oleh Gus Ma'ruf Asrori, Wakil Ketua Lajnah Ta'lif Wan-Nasyr PBNU. Beliau menceritakan kepada penulis, bahwa selebaran Manhaj Salaf -yang lebih tepatnya disebut Manhaj Wahabi-, tersebar di daerah Cilacap dan sekitarnya. Beberapa kiai yang merasa resah dengan beredarnya selebaran itu meminta beliau untuk dibuatkan bantahan ilmiah seputar isinya. Sehingga beliau -dan atas motivasi KH Muhyiddin Absusshomad, Rais Syuriyah PCNU Jember- , meminta penulis untuk membuat bantahan ilmiah sekedarnya tentang isi selebaran tersebut.

Akhirnya, penulis berupaya menulis buku kecil ini, sebagai bantahan ilmiah terhadap selebaran manhaj Salaf tersebut. Dengan harapan risalah kecil ini, mampu menenangkan kaum Muslimin Nusantara yang mencintai ajaran Islam yang murni, sejak gcnerasi kaum salaf, dari kalangan sahabat, tabi'in dan generasi penerusnya Ahlussunnah Wal-Jama'ah. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Gus Ma'ruf Asrori, dan para kiai yang turut memberikan motivasi dalam penulisan buku kecil ini. Semoga bermanfaat. Jazakumullah khaira.

Jember, 12 Nopember 2011
Muhammad Idrus Ramli

DAFTAR ISI:
  •  KATA PENGANTAR, iii
  • HUKUM KENDURI KEMATIAN, 1
  • KONTRIBUSI TETANGGA, 6
  • KHILAFIYAH ULAMA SALAF, 8
  • TAHLILAN DAN YASINAN, 13
  • TRADISI YASINAN, 32
  • TRADISI 40, 100 DAN 1000 HARI, 42
  • HADITS TENTANG AL-QUR'AN UNTUK ORANG MATI, 44
  • BID'AH HASANAH, 50
  • KETIDAKJUJURAN ILMIAH WAHABI, 52
  • BERSAMA BUKU SHOLEH SO'AN, 58
  • BENARKAN DULU, LALU REKAYASA DALILNYA, 58
  • SUMBER DARI LUAR ISLAM, 62
  • ORANG MISKIN BERSEDEKAH, 71
  • PENUTUP, 74
  • DAFTAR REFERENSI, 76
  • TENTANG PENULIS, 78