Senin, 18 Maret 2013

Al-Hujaj Al-Qath'iyyah fi Shihhah al-Mu'taqadaat wa al-'Amaliyyat al-Nahdliyyah

Fiqih Tradisionalis versi Arab
Al-Hujaj Al-Qath'iyyah fi Shihhah al-Mu'taqadaat wa al-'Amaliyyat al-Nahdliyyah
Karya KH Muhyiddin Abdushomad

Pemikiran KH Hasyim Asy'ari tentang Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah)

Judul Buku: Pemikiran KH Hasyim Asy'ari tentang Ahlussunnah Wa al-Jamaah

Penulis : Achmad Muhibbin Zuhri
Penerbit : Khalista dan LTN PBNU
Cetakan I : Desember 2010
Tebal : XXVI+ 328 Halaman
Harga : Rp. 50.000,-

Resensi :
Mbah Hasyim Ideolog Sunni Indonesia

Fakta jika mayoritas umat Islam di Indonesia adalah pengikut ajaran Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah (aswaja) tidak dapat dipungkiri. Keberhasilan itu tidak bisa dilepaskan dari peran Nahdlatul Ulama yang sedari awal berdiri meneguhkan diri sebagai pengamal dan pengawal ajaran ahlussunnah wal jamaah. Diakui ataupun tidak, inklusifitas ajaran Nahdhatul Ulama yang ditransformasikan dari nilai-nilai aswaja telah memberikan kontribusi besar terciptanya wajah moderat dan fleksible Islam di Indonesia.
Bangsa Indonesia yang multikultur serta kaya akan ragam tradisi, tidak menghalangi Islam ala NU membumi. Mengacu pada teori Islam Kolaboratif Prof. Nur Syam, fleksibilitas doktrin sunni mampu berkolaborasi dengan tradisi-tradisi non Islami yang telah mapan tanpa menghilangkan nilai-nilai ajaran Islam yang bersifat absolut.
Fenomena kenduri, tahlilan, perayaan maulid, peringatan tiga hari, tujuh hari serta seratus hari pasca kematian, adalah bukti bentuk metamorfosa nilai-nilai ajaran Islam dengan budaya masyarakat Indonesia pra Islam. Sehingga, keberadaan Islam dapat diterima menjadi agama mayoritas masyarakat Indonesia tanpa resistensi yang berarti.
Dalam kajian historis, Walisongo sangat berjasa menanamkan ajaran ahlussunnah di ranah Nusantara. Namun, NU sebagai organisasi sosial keagamaan memiliki andil yang signifikan dalam mempertahankan ajaran ideologi Sunni. Menjamurnya organisasi keagamaan yang mengusung purifikasi dan pembaruan Islam dalam dekade awal abad 20 secara sistemik dan masif melakukan penggerogotan. Di sinilah NU berperan aktif melakukan pendampingan serta pengawalan terhadap tradisi Sunni sebagai way of life mayoritas umat Islam Indonesia.
Satu hal pokok yang tidak boleh dilupakan bahwa wajah Sunni Nahdlatul Ulama sangat dipengaruhi oleh paradigma Aswaja Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Tidak berlebihan jika KH Hasyim Asy’ari ditahbiskan sebagai ideolog Sunni Indonesia. Penelitian terbaru tentang pemikiran tokoh pendiri organisasi sosial keagamaan terbesar di dunia ini, Dr Achmad Muhibbin Zuhri menemukan corak Sunni KH Hasyim Asy’ari sangat khas dan tidak sebangun persis dengan konstruksi Sunni era awal, meskipun dalam banyak hal tetap mencerminkan pola Sunni.
Sunni Partikular ala Mbah Hasyim
Ahlussunnah wal jamaah sebagai ideologi tidak dapat dilepaskan dari normatifitas ajaran yang telah digariskan pengagasnya. Namun, dalam tataran praksis, normatifitas ajaran ahlussunnah tersebut tidak bisa melepaskan diri dari proses dialektika dengan dinamika sosio religious yang mengelilingi. Jika entitas Sunni era awal pembakuan sebagai counter ideologis terhadap Mu’tazilah dan Jabariah, serta counter politic terhadap syi’ah. Hal ini berbeda dalam konteks di mana Mbah Hasyim hidup.
Meskipun bangunan pemikiran Mbah Hasyim dipengaruhi oleh pemikiran ulama abad pertengahan dan klasik, namun dekade Mbah Hasyim identik dengan era pertarungan antara entitas Islam Tradisional yang diwakili oleh masyarakat pesantren dan mayoritas umat Islam Indonesia yang berhaluan sunni, berhadapan dengan entitas Islam puritan dan pembaharu yang dikelompokkan dalam Islam Modernis. Uniknya, kelompok Tradisionalis maupun Puritan-Modernis sama-sama mengaku sebagai entitas sunni dan secara geneologis bertemu pada simpul Ahmad bin Hanbal pendiri Madzhab Hanbali yang dikenal otoritasnya sebagai ahli hadist.
Konstruksi naratif pemikiran Mbah Hasyim dapat dipandang sebagai salah satu “counter discource” terhadap mainstream pemikiran modernis dan puritan. Yakni kelompok yang menolak secara tegas pola bermadzhab dan taqlid serta melarang bid’ah atau kreatifitas dalam ibadah yang secara eksplisit tidak terdapat acuan dalam nash Al-Qur’an maupun Al-Hadis.
Pandangan Mbah Hasyim mengenai tawassul, istighatsah, syafa’at, kewalian, maulid, tarekat, dalam beberapa kitab karangannya merupakan wacana tanding pemikiran kelompok Islam Puritan yang dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab pendiri Aliran Wahhabi. Sedangkan isu-isu pembaruan yang dimunculkan oleh kalangan Modernis pengikut pemikiran Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh, direspon oleh Mbah Hasyim dalam pembahasan seputar ijtihad, madzhab, taqlid, talfiq, sunnah dan bid’ah.
Menurut Muhibbin, deskripsi pemikiran keagamaan Kiai Hasyim di atas berimplikasi teoritis terhadap konsep Sunnisme. Mbah Hasyim dapat diintrodusir sebagai “sunni partikular”, yaitu paham ahlussunnah wal jamaah yang telah berdialog dengan dinamika keagamaan di Indonesia, khususnya dialektika modernis-tradisionalis pada abad ke-20. (hal. 265)
Sebagai bagian dari komunitas Nahdliyin, penulis telah berhasil menggali dengan mendalam tentang konstruksi pemikiran KH. Hasyim Asy’ari. Tokoh pendiri Nahdlatul Ulama yang hingga saat ini menjadi ikon Islam subtantif dan moderat. Buku ini merupakan hasil disertasi yang diterbitkan, sehingga alur penulisannya sistematis dan analisanya mendalam. Oleh penulis, pembaca diajak mengarungi pemikiran ahlussunnah KH. Hasyim Asy’ari secara runtut dan detail. Mulai dari kajian embrio munculnya pemikiran Sunni, konsolidasi, pelembagaan ideologi sunni era abad pertengahan, hingga dialektika sunni dengan realitas sosio-religius yang melingkupinya dalam berbagai dekade.
Tidak kalah menarik, uraian tentang latar belakang intelektual yang membentuk paradigma Sunni KH Hasyim Asy’ari serta bagaimana pendiri Nahdlatul Ulama ini berusaha mendialektikakan mainstream sunni dengan realitas sosio-religious masyarakat Indonesia era awal abad 20. Sehingga, tampak jelas kepiawaian Mbah Hasyim dalam merumuskan doktrin-doktrin ahlussunnah dari nash Al-Qur’an dan Al-Hadis yang pada akhirnya memunculkan bentuk sunni yang khas Indonesia.
Studi dalam buku ini, selain dapat memberikan referensi bagi usaha-usaha reaktualisasi ideologi, juga berguna menambah khazanah keilmuan tentang Sunni Partikular, yaitu ekspresi ahlussunnah wal jamaah pada dimensi ruang dan waktu tertentu. Selain itu, buku ini merupakan wujud usaha aktualisasi sekaligus kontekstualisasi ahlussunnah wal jamaah yang bercorak inklusif, moderat dan fleksible dalam bersinggungan dengan kesejarahan umat. Walhasil, apresiasi yang besar layak diberikan kepada penulis, sebab isi buku ini menambah kekayaan tafsir tentang ahlussunnah di saat gempuran ideologi “kaca mata kuda”  Islam puritan yang cenderung eksklusif menguncang kedamaian dan kesantunan dalam beragama dan keberagamaan. Wallahu a’lam… (Peresensi : Fathul Qodir, Sumber: NU Online)

Membumikan Aswaja; Pegangan Para Guru NU - Tim PP Persatuan Guru NU (PERGUNU)

Judul : Membumikan Aswaja; Pegangan Para Guru NU
Oleh : Tim PP Persatuan Guru NU (PERGUNU)
Tebal : xii + 243 halaman
Cetakan, Pertama, Juni 2012
Penerbit : Khalista
Harga : Rp. 45.000,-
Tanggung jawab para guru adalah mengentaskan anak didiknya dari kemiskinan ilmu, khusunya ilmu yang pada akhirnya mampu membentengi mereka dari serbuan aliran yang bertentangan dengan aliran Ahlussunnah Waljamaah.
Dalam konteks inilah menjadi strategis gagasan pembuatan buku aswaja untuk para guru yang dilontarkan oleh para Pengurus Pusat PERGUNU, karena bagaimana pun juga harus diakui bahwa guru adalah ujung tombak satu-satunya yang dimiliki oleh NU dalam rangka menjaga, memelihara dan membumikan eksistensi ajaran Aswaja pada masa yang akan datang, khusunya bagi para peserta didik di kalangan lembaga pendidikan formal.
Buku ini hadir memberi wawasan dan pemahaman kepada masyarakat NU dan siapa saja yang mau membacanya agar lebih paham dan tidak ragu lagi dalam melakukan amaliahnya yang telah tumbuh dan berkembang dari tahun ke tahun bahkan dari abad ke abad.
Tuduhan kelompok yang melakukan serang itu sesungguhnya tidak berdasar dan tidak terbukti kebenarannya. Mereka salah dalam melihat dan menilai masyarakat NU dalam beramaliah dari dulu hingga saat ini.
Semoga hidayah Allah sampai kepada mereka semua sehingga tidak gampang dan mudah menyalahkan kelompok lain.

Syaikhona Kholil Bangkalan; Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama

 Judul : Syaikhona Kholil Bangkalan; Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama
 Oleh : RKH. Fuad Amin Imron
 Tebal : xxviii + 228 hlmn.
 Cetakan : Pertama, Juni 2012
 Penerbit : Khalista & Penainsani
 Harga : Rp. 45.000,-
 "Jika Muammil Qomar (2002) menyebut 3 nama ulama yang memiliki peran penting dalam proses pendirian NU, yaitu KH Wahab Hasbullah sebagai pencetus ide, KH Hasyim Asy'ari sebagai pemegang kunci, dan Syaikhona Muhammad Kholil sebagai penentu berdirinya NU, dalam buku ini saya menambahkan satu ulama lagi, yaitu, KH As'ad Syamsul Arifin. Peran Kiai As'ad dalam konteks ini adalah penyampai isyarat langit dari Syaikhonan Kholil, yang telah meneguhkan sikap dan pandangan KH Hasyim Asy'ari untuk mendirikan NU." (RKH Fuad Amin Imron, Penulis)
 "Dalam prespektif spiritualitas, Syaikhona Kholil adalah tokoh yang berperan secara langsung dalam pendirian organisasi para ulama pesantren. Pesan spiritualitasnya yang disampaikan melalui KH As'ad Syamsul Arifin menjadi faktor penentu bagi berdirinya NU. Dan pesan simbolik Syaikhonan Kholil inilah yang telah menepis keraguan, kegamangan dan kegelisahan Kiai Hasyim untuk mendirikan NU. Keyakinan Kiai Hasyim terhadap pesan spiritual gurunya itu, lalu diteruskan secara lahiriah kepada Kiai Wahab Hasbullah sebagai pembawa ide, untuk ditindaklanjuti dalam sebuah permusayawaratan ulama di Surabaya, pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H), setahun sebelum Syaikhonan Kholil wafat. Permusyawaratan para ulama tersebut melahirkan Komite Hijaz, yang kemudian ditetapkan namanya menjadi Jam'iyah Nahdlatul Ulama." (Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA, Ketua Umum PBNU)
 "Isyarah Tongkat Musa dan Tasbih yang diberikan Syaikhona Kholil kepada Kiai Hasyim Asy'ari melalui Kiai As'ad berhubungan dengan jam'iyah sekaligus jamaah NU. Tongkat Musa adalah simbol komando atau kepemimpinan (leadership), sementara Tasbih adalah simbol spiritualitas dan simbol budaya. Kombinasi keduanya, diharapkan agar pemimpin NU memiliki pandangan, sikap dan tindakan yang terjaga keseimbangannya antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi. Muaranya adalah keteladanan (al-uswah), dimana pandangan, sikap dan tindakan pemimpin NU harus dapat dijadikan teladan oleh jamaah." (Nico Ainul Yakin, Editor)a

Minggu, 17 Maret 2013

Kisah Inspiratif dari Para Santri Berprestasi

Judul: Impian Hebat, Kisah Sukses Meraih Beasiswa
Penerbit: Penerbit Matapena
Editor:Lianni Qanita
Penata isi: Imam Adolide
Tahun Terbit: Cet I, November, 2012
Tebal Halaman: xii + 184 halaman
ISBN: 979- 25-5384-3
Peresensi; Noor Aflah

Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Matapena yang berkerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) RI ini memuat berbagai kisah nyata perjalanan para santri dalam berkhidmat dan membangun impian mereka sejak di pesantren hingga bisa berkuliah lantaran mendapatkan beasiswa dari Kemenag RI melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB). PBSB merupakan sebuah beasiswa yang ditujukan bagi santri yang memiliki kemampuan akademik, kematangan pribadi, kemampuan penalaran, dan potensi untuk mengikuti program pendidikan perguruan tinggi.

Program beasiswa ini dicetuskan karena adanya fakta yang menunjukkan bahwa untuk bisa masuk ke perguruan tinggi bagi kaum santri “berprestasi” yang sulit. Apalagi untuk bisa lewat jalur beasiswa. Dari situlah, maka Kemenag RI melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam berinisiatif dengan mengupayakan sebuah program beasiswa bagi mereka, yakni dengan program PBSB. (hal. vii).

Ada dua puluh lima cerita yang ditulis dalam buku ini. Kesemuanya sungguh inspiratif. Satu cerita dengan cerita lainnya mempunyai keunikan sendiri-sendiri. Kita ambil contoh saja, Ufiq Faisol Ahlif, seorang santri dari Pesantern AT-Thullah TBS Kudus.

Sejak menitih studi di MA atau setara dengan SMA, ia selalu diliputi persaan galau antara terus untuk mondok atau “ngampus” di perguruan tinggi. Baginya –sebelum masuk PBSB-, kuliah hanya akan berorientasi pada kehidupan duniawi saja, dan tidak ada lagi ilmu-ilmu agama yang menghiasi hari-hari perkuliahan. Maka dari situ, saat itu ia memilih untuk melanjtukan ke pesantren. Selain itu, juga ada satu syarat lagi yang harus Ufiq patuhi ketika ia ingin kuliah. Yakni sang orang tua yang tak mau membiayai kuliahnya (hal. 113).

Sejak saat itu, setelah selesai sekolah maupun pada jam-jam kosong, Ufiq selalu menyempatkan diri pergi ke warnet untuk mencari informasi tentang pesantren dan beasiswa untuk kuliah. Karena untuk pesantren telah di pasrahkan ke orang tuanya, maka ia lebih fokus untuk mencari informasi beasiswa di perguruan tinggi-perguruan tinggi (hal. 114).

Tak terasa 2 tahun telah terlewati. Masa studi Ufiq di MA pun tengah memasuki akhir tahun. Teka-teki masa depan kehidupannya mulai menemui titik terang. Ada kabar bahwa tiga orang kakak kelasnya masuk dalam seleksi beasiswa PBSB. Ia pun tertarik untuk mengikuti jejak mereka.

Pada bulan Februari 2010, guru bahasa Inggris sekaligus wakil kepala sekolah bidang Humas dan Sarpras mengumumkan: “Pendaftaran beasiswa Pekapontren 2010 telah dibuka, bagi siswa yang ingin mengikutinya silahkan menghubungi Pak Qomari dan segera melengkapi persyaratan administrasinya”. Mendengar pengumuman itu, Ufiq pun menghela nafas dan berujar: “inilah jalan saya” (hal. 115).

Ada 13 orang tercatat yang telah mendaftar, sehingga guru yang bertugas harus lembur mengumpulkan persyaratan yang harus dipenuhi mengingat waktu tak seleksi tak lama lagi. Tak pelak, Ufiq dan 13 tahun pun harus ikut lembur membantu menyiapkan persyaratan-persyaratan tersebut.

Singkat cerita, tibalah waktu seleksi. Ufiq bersama 13 orang temannya pergi ke Semarang (tempat seleksi regional tengah). Tes seleksi dilakukan seharian penuh. Tak ada waktu buat peserta untuk merilekskan diri apalagi untuk belajar. Lelah tiada tara nampak jelas diraut muka seluruh peserta. Tak terkecuali Ufiq. Dalam kondisi seperti itu Ufiq hanya bisa pasrah dan semoga diberikan yang terbaik (hal. 117).

Jam 17.00 WIB lebih tes seleksi baru selesai. Pulanglah Ufiq dan 13 temannya ke Kudus dengan diringi rasa capek yang tak terhingga. Namun semua itu tak sia-sia. Akhirnya semua usahanya berbuah manis. Seminggu sebelum hari pengumuman hasil seleksi, ia mendapatkan SMS dari teman yang isinya: “selamat kepada Ufiq faisol ahlif yang diterima beasiswa PBSB di UPI Bandung”. Tak bisa dibayangkan betapa bahagianya Ufiq pada saat itu.

Begitulah kira-kira kisah para santri menggapai mimpi yang tertuang dalam buku ini. Lain halnya dengan Ufiq, Isma Noor Fitria –santrwati asal Banjarbaru, Kalsel- yang harus bekerja ekstra keras dalam MQK (Musabaqah Qira’at al-Kutub) di pesantrennya hanya untuk bisa mendapatkan beasiswa ini (hal. 65).

Begitu juga dengan Hamas seorang santri generasi pertama di kota Padang yang lolos seleksi di tingkat Sumatra Barat untuk maju ke level nasional dalam Olimpiade Sains Nasional. Walaupun akhirnya tidak lolos namun terus optimis dan membangun impian barunya. Dan akhirnya diterimalah ia kuliah di ITB jurusan Teknologi Industri melalui program beasiswa ini (ha. 79). Begitu inspiratif.

Kisah-kisah yang ditulis langsung oleh para penerima beasiswa PBSB dalam buku ini bak sebuah gambaran riil karakteristik santri dengan segala pahit getir perjuangannya menggapai cita. Dengan bahasa yang renyah, buku ini rasanya telah membuktikan bahwa santri pun juga bisa dan mampu bersaing dengan pelajar lainnya dalam menempuh studi di perguruan tinggi.

Santri pun bisa menulis. Santri pun punya impian hebat. Santri pun bisa sukses. Selamat membaca!

* Peresensi adalah mahasiswa Penerima Beasiswa PBSB di IAIN Walisongo Semarang

Hizbut Tahrir dalam Sorotan

Hizbut Tahrir dalam Sorotan

Oleh: Muhammad Idrus Ramli
Penerbit: Bina Aswaja
Harga: Rp. 23.000,-


Buku ini sama, sekali tidak bermaksud menyudutkan Hizbut Tahrir atau bermaksud menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam, akan tetapi buku ini bermaksud mengajak kaum Muslimin agar bersatu dalam naungan ajaran Islam yang lurus, murni dan asli, yaitu Islam yang sesuai dengan ajaran Ahlusunah Wal-jamaah, yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Sebagaimana dimaklumi, Hizbut Tahrir adalah gerakan politik trans-nasional yang membawa visi dan misi berdirinya khilafah tunggal di muka bumi serta terlaksananya syari'at Islam dalam setiap lini kehidupan. Dari visi dan misi idealis Hizbut Tahrir tersebut, tidak sedikit generasi kita yang menaruh simpati, terpesona dan akhirnya menjadi kader dan pengikut setia Hizbut Tahrir, tanpa menyadari bahwa di balik visi dan misi tersebut, sebenarnya terdapat sekian banyak pandangan, ideologi dan fatwa hukum Hizbut Tahrir yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang lurus, murni dan asli seperti yang diajarkan oleh Rasulullah dan sahabatnya.

Oleh karena itu buku yang ada di tangan pembaca ini menjadi sangat penting untuk dibaca terutama oleh para aktivis dakwah di kampus-kampus, di berbagai Islamic Centre, di masjid-masjid maupun di khalayak umum, yang selama ini telah menjadi objek aktivitas dan propaganda Hizbut Tahrir.a

Syiah Agama Kedustaan

Syiah Agama Kedustaan

Oleh: Ahmad Ilham Masduqi
Penerbit: Bina Aswaja
Harga: Rp. 27.000,-
Tebal: xii + 180 Hal.

Janganlah kalian berbicara dengan orang-orang Syiah, jangan mengambil riwayat dari mereka, karena mereka adalah para pendusta. (Imam Abu Hanifah , w. 150 H)

Bawalah ilmu dari setiap orang yang engkau jumpai, kecuali dari orang-orang Rafidhah. Mereka membuat Hadis palsu dan menjadikannya sebagai agama. (Syuraik bin Abdillah an-Nakha'i, Qadhi Kufah, w. 177 H)

Aku tidak pernah melihat orang yang gemar memberikan persaksian palsu melebihi orang-orang Rafidhah. (Imam asy-Syafi'i, w. 204 H)

Tiba giliran datangnya aliran Syiah dari Iran... kaum muslimin disuguhi propaganda ajaran Syiah yang diperkenalkan sebagai 'ajaran Ahlul-Bait'. Akan tetapi kaum muslimin menjadi terheran-heran menyikapi ajaran aliran ini, karena munculnya ajaran-ajaran dan cerita-cerita aneh yang belum mereka dengar sebelumnya.

Aliran Syiah ini tiba-tiba datang dengan membawa ajakan melaknat (mengutuk) Sayidina Abu Bakar, Sayidina Umar bin Khatthab, Sayidina Utsman dan bahkan semua sahabat-sahabat Nabi, kecuali hanya empat atau lima sahabat saja yang mereka puji.

Mereka juga membawa ajaran kawin-kontrak atau mereka sebut nikah mut'ah untuk menarik simpati pemuda-pemuda dan pria-pria beriiwa hidung belang.