Tampilkan postingan dengan label Ponpes Al-Khairat Bekasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ponpes Al-Khairat Bekasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Maret 2013

Terjemah Kitab Al-Hujaj Al-Wadhihat Fi Najat Al-Abawain wa Al-Ajdad wa Al-Ummahat karya: Sayyid Ishaq Azuz Al-Hasani Al-Makki

Ayah Bunda Nabi SAW di Surga

Terjemah Kitab Al-Hujaj Al-Wadhihat Fi Najat Al-Abawain wa Al-Ajdad wa Al-Ummahat karya: Sayyid Ishaq Azuz Al-Hasani Al-Makki
Penterjemah: Muhammad Ahmad Vad'aq
Penerbit: Pustaka Al-Khairat
Harga: Rp. 15.000,-

Buku ini bantahan untuk para manusia usil nan bodoh yang merasa bisa meraih pahala ketika mampu mengkafirkan ayah dan bunda Nabi SAW.

Memahami hadits dengan mengedepankan hawa nafsu belaka sehingga yang terjadi adalah minimnya adab pada Nabi-nya sendiri, hingga mengkafirkan ayah dan ibu Rasulallah SAW.

Qadhi Ibnu Arabi Al-Maliki menjelaskan, tidak ada celaan yang lebih besar dari celaan orang yang menyatakan kedua orang tua nabi SAW berada di neraka.

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan." {QS. Al-Ahzab: 57).
Kalaupun kita tidak bisa mengagungkan Nabi yang mulia, setidaknya kita tidak menjadi pencaci yang menyakitinya.

Bahas Cerdas dan Kupas Tuntas Dalil Syar'i Maulid Nabi

Bahas Cerdas & Kupas Tuntas Dalil Syar'i Maulid Nabi
Oleh: Muhammad Ahmad Vad'aq
Penerbit : Pustaka Al-Khairat
Harga : Rp. 30.000,-

Api abadi sesembahan kaum Majusi yang telah menyala seribu tahun padam seketika. Pilar-pilar kokoh istana kisra Persia pun tumbang berjatuhan. Dan banyak lagi, Walhasil, alam bergemuruh, menyambut kelahiran Nabi SAW sedemikian rupa.
Puluhan tahun kemudian, ada sahabat bertanya mengapa beliau berpuasa di hari Senin. "Itulah hari kelahiranku dan hari aku diutus," jawab Beliau. Itulah cara Beliau memperingati hari lahirnya. Beliau mensyukurinya dengan berpuasa, bahkan di setiap pekan.

Waktu berputar. Sumber-sumber sejarah mencatat beberapa versi terkait pihak yang awal mula merayakan Maulid secara terbuka, pasca-era Nabi. Salah satu sumber mu'tamad, At-Tarikh karya Ibnu Katsir, menyebut nama Al-Muzhaffar Abu Sa'id Kaukabri (wafat 630 H). Kala itu, kisah hidup Nabi diperdengarkan, keluhuran akhlaq Beliau disebut-sebut, shalawat bergema silih-berganti, hadirin dijamu layaknya tamu yang mesti dihormati. Meski hanya setahun sekali, inilah salah satu cara umat yang ingin mensyukuri kelahiran sang rahmatan lil'alamin. Di hati pecinta, sungguh ini kenikmatan tiada tara.

Terlepas dari berbagai versi sejarah itu, gagasan mengumpulkan orang dalam sebuah majelis Maulid nyatanya disambut baik oleh ulama, para pewaris anbiya', seperti halnya shalat Tarawih berjama'ah yang digagas Umar bin Khaththab RA, yang terus dilestarikan orang dari zaman ke zaman, di belahan bumi Islam timur dan barat.

Sebut saja Ibnu Hajar (penyusun kitab syarah Shahih Ai-Bukhari) atau An-Nawawi (penyusun kitab syarah Shahih Muslim), dua dari sekian banyak ulama yang telah menjelaskan pada umat hujjah-hujjah syar'i amaliyah Maulid Nabi.

Mereka bukan sembarang tokoh, dua kitab syarah mereka itu menjadi rujukan terpenting untuk memahami hadits-hadits shahih Rasulullah SAW.

Belum lagi As-Suyuthi (penyusun kitab tafsir Qur'an Al-Jalalain, bersama Al-Mahalli, dan sekitar 500 karya berbobot lainnya), yang sampai menyusun kitab khusus berisi perkara penting ini: Husn al-Maqshad fi 'Amal al-Maulid.

Waktu terus berputar. Hingga datang satu kaum yang merasa paling murni tauhidnya dan benar mutlak pendapatnya menghukumi Maulid dengan tergesa-gesa.
Hemat mereka, Maulid itu tak bersumber dari agama, termasuk amalan bid'ah, tradisi paham yang sesat, menyerupai kebiasaan orang kafir, daiil-dalilnya dipaksakan, jamuan yang dihidangkan haram, memuji-muji Nabi di dalamnya menjurus syirik, dan kelak para pelaku "bid'ah" ini menjadi ahli neraka.

Semua itu utamanya bermodalkan dalil, "Tiap yang baru adalah bid'ah, setiap bid'ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu ada di neraka" dan rumusan Ibn Taimiyah, "Sekiranya suatu amalan itu baik, niscaya salaf lebih dulu mengamalkannya."

Benarkah demikian? Sesederhana, sedangkal, dan sekaku itukah agama yang agung ini menilai amaliyah umatnya, hingga menempatkan kaum muslimin sejak dulu bagai sekumpulan orang-orang sesat dan para ulamanya bak orang-orang bodoh yang tak paham hadits Nabi SAW atau para pembangkang atas syariat yang beliau gariskan?

Selamat menyimak isi buku ini. Hati manusia tidaklah lebih panas dari api abadi Majusi atau sekeras pilar istana Persi.
Semoga Allah SWT menyadarkan kita semua dari rasa angkuh dalam memahami kebenaran dan dalam mengikutinya. Amiin..

Sabtu, 17 Maret 2012

Yang Hidup Memberi, Yang Mati Menerima : Terjemah Kitab Al-'Ulama' wa aqwaluhum fi sya'ni Al-Amwat wa Ahwalihim

Yang Hidup Memberi; Yang Mati Menerima

(Terjemah kitab Al-'Ulama' wa aqwaluhum fi sya'ni Al-Amwat wa Ahwalihim, Karya: Faishal Murad Ali Ridha)

Penterjemah: Muhammad Ahmad Vad'aq

Penerbit: Pondok Pesantren Al-Khairat, Bekasi

Tebal: vii + 80 Hal

Harga: Rp. 12.000,-


Buku Yang Hidup Memberi Yang Mati Menerima.

Menyimak Pendapat-pendapat: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab perihal sampainya hadiah amal kepada Mayit dan hal-hal lain yang terkait.

Buku ini amat layak untuk dibaca mengingat penulisnya hanya mengambil referensi dari ulama yang nyaris tak pernah tersentuh kritik dari sementara pihak yang selalu mudah menghakimi dan lantang menyalahkan para Ulama. Dalam buku ini penulis hanya merujuk pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Disamping itu, buku ini menyimpan informasi berimbang, sehingga dapat diketahui bahwa perselisihan adalah hal yang wajar, misalnya pada masalah do'a terhadap orang yang sudah meninggal dunia atau yang berhubungan dengan tata cara penguburan, sehingga tidak semestinya disikapi dengan fatwa yang berlebihan.